"Kemarin paman datang pamanku dari desa, dibawakannya rambutan pisang dan sayur mayur segala rupa. Paman perna berjanji mengajakku turun ke desa. Mandi di kali, turun ke sawah sudah terbayang aku disana" sepenggal lagu Paman Datang oleh Tasya. Lagu yang pas menggambarkan dusunku. Jika diandaikan aku ini betul-betul tulen anak desa yang masa kecilnya hanya menggunakan lentera, jalan yang masih berlobang, tanpa TV, mandi di sungai, pergi ke hutan dan masih banyak lagi. Aku sangat bersyukur besar di sebuah dusun yang dianggap terpencil. Yah walau fasilitas tidak banyak kudapatkan seperti di tempat yang BERLISTRIK namun aku bahagia karena masa kecilku tidak terenggut dan ku habiskan dengan bermain. Sahabat dusunku bernama Santunan. Dari namanya saja mungkin Sahabat berfikir wah... Miskin banget yah sehingga harus di santuni. Wajar saja dengan fasilitas dan nama dusunku sering kali aku di pandang sebelah mata. Pemberian nama itu bukan sebuah kesengajaan. Namun karena awal...
berbagai informasi, tips, trik dan apapun yang sedang berkembang di masyarakat