"Kemarin paman datang pamanku dari desa, dibawakannya rambutan pisang dan sayur mayur segala rupa.
Paman perna berjanji mengajakku turun ke desa. Mandi di kali, turun ke sawah sudah terbayang aku disana" sepenggal lagu Paman Datang oleh Tasya.
Lagu yang pas menggambarkan dusunku. Jika diandaikan aku ini betul-betul tulen anak desa yang masa kecilnya hanya menggunakan lentera, jalan yang masih berlobang, tanpa TV, mandi di sungai, pergi ke hutan dan masih banyak lagi.
Aku sangat bersyukur besar di sebuah dusun yang dianggap terpencil. Yah walau fasilitas tidak banyak kudapatkan seperti di tempat yang BERLISTRIK namun aku bahagia karena masa kecilku tidak terenggut dan ku habiskan dengan bermain.
Sahabat dusunku bernama Santunan. Dari namanya saja mungkin Sahabat berfikir wah... Miskin banget yah sehingga harus di santuni. Wajar saja dengan fasilitas dan nama dusunku sering kali aku di pandang sebelah mata.
Pemberian nama itu bukan sebuah kesengajaan. Namun karena awalnya dusunku adalah daerah transmigrasi sehingga bantuan dan sumbangan serta santunan diberikan pada warga yang mau tinggal di tempat ini.
Wajar saja jika saat itu masyarakat yang mau tinggal di Dusun Santunan ini harus di berikan bantuan sebab sangat jarang orang yang ingin tinggal dan pindah sebab masih berbentuk Hutan dan tanpa penerangan.
Awal kali aku pindah ke sini pun aku sempat stress. Why kendaraan susah, dan tanpa listrik.
Tapi keadaan berubah setelah listrik mulai masuk ke Dusun kami yang tercinta ini. Seakan perekonomian yang kemarin jalan ditempat langsung berpacu dan berjalan. Sangat banyak pengusaha ternak yang masuk dan membuka lapangan kerja. Masyarakat mulai melirik ternyata ada potensi besar yang terpendam.
Saat ini Dusun Santunan yang terletak di Desa Pattondon Salu, Kecamatan Maiwa amatlah berbeda telah ramai dan lebih cerah.
Paman perna berjanji mengajakku turun ke desa. Mandi di kali, turun ke sawah sudah terbayang aku disana" sepenggal lagu Paman Datang oleh Tasya.
Lagu yang pas menggambarkan dusunku. Jika diandaikan aku ini betul-betul tulen anak desa yang masa kecilnya hanya menggunakan lentera, jalan yang masih berlobang, tanpa TV, mandi di sungai, pergi ke hutan dan masih banyak lagi.
Aku sangat bersyukur besar di sebuah dusun yang dianggap terpencil. Yah walau fasilitas tidak banyak kudapatkan seperti di tempat yang BERLISTRIK namun aku bahagia karena masa kecilku tidak terenggut dan ku habiskan dengan bermain.
Sahabat dusunku bernama Santunan. Dari namanya saja mungkin Sahabat berfikir wah... Miskin banget yah sehingga harus di santuni. Wajar saja dengan fasilitas dan nama dusunku sering kali aku di pandang sebelah mata.
Pemberian nama itu bukan sebuah kesengajaan. Namun karena awalnya dusunku adalah daerah transmigrasi sehingga bantuan dan sumbangan serta santunan diberikan pada warga yang mau tinggal di tempat ini.
Wajar saja jika saat itu masyarakat yang mau tinggal di Dusun Santunan ini harus di berikan bantuan sebab sangat jarang orang yang ingin tinggal dan pindah sebab masih berbentuk Hutan dan tanpa penerangan.
Awal kali aku pindah ke sini pun aku sempat stress. Why kendaraan susah, dan tanpa listrik.
Tapi keadaan berubah setelah listrik mulai masuk ke Dusun kami yang tercinta ini. Seakan perekonomian yang kemarin jalan ditempat langsung berpacu dan berjalan. Sangat banyak pengusaha ternak yang masuk dan membuka lapangan kerja. Masyarakat mulai melirik ternyata ada potensi besar yang terpendam.
Saat ini Dusun Santunan yang terletak di Desa Pattondon Salu, Kecamatan Maiwa amatlah berbeda telah ramai dan lebih cerah.
Komentar
Posting Komentar